Gaji baru masuk, tetapi beberapa hari kemudian saldo sudah jauh berkurang. Ada tagihan kartu kredit, cicilan, belanja online, makan di luar, langganan digital, hingga pengeluaran kecil yang rasanya tidak pernah terlalu besar jika dilihat satu per satu. Apakah Anda cukup familiar dengan siklus seperti ini?
Anda tidak sendiri, karena situasi seperti ini bisa mudah terjadi kepada siapa saja. Apalagi sekarang hampir semua transaksi bisa dilakukan dalam hitungan detik, sementara fasilitas cicilan membuat barang yang sebenarnya mahal terasa lebih terjangkau karena pembayaran dibagi beberapa bulan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan fenomena tersebut semakin relevan. Per Juli 2026, baki debet kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan mencapai Rp31,56 triliun dengan 33,50 juta rekening, tumbuh 31,22% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, di perusahaan pembiayaan, nilai pembiayaan BNPL mencapai Rp13,62 triliun pada periode yang sama, tumbuh 54,65% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut tentu tidak berarti setiap pengguna BNPL memiliki masalah keuangan. Namun, kemudahan berutang membuat satu kemampuan menjadi semakin penting: membedakan antara apa yang mampu dibeli dan apa yang sebenarnya mampu ditanggung oleh keuangan kita.
Financial freedom sering dibayangkan sebagai kondisi ketika seseorang memiliki aset besar dan tidak perlu bekerja lagi. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, kebebasan finansial bisa dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Misalnya, mampu membayar kebutuhan tanpa terus menunggu tanggal gajian, tidak panik ketika muncul pengeluaran tak terduga, dan tidak harus menggunakan utang setiap kali membutuhkan sesuatu. Dengan begitu, mengatur keuangan bukan berarti menghilangkan seluruh kesenangan.
Yang menjadi persoalann adalah apakah gaya hidup masih mengikuti kemampuan, atau justru kemampuan finansial yang terus dipaksa mengikuti gaya hidup. Di sinilah kebiasaan finansial sehat menjadi penting.
Langkah pertama bukan langsung membuat anggaran yang rumit. Cukup lihat kembali transaksi tiga bulan terakhir. Kelompokkan pengeluaran menjadi beberapa kategori, seperti kebutuhan rutin, cicilan, tabungan, investasi dan pengeluaran gaya hidup. Dengan begitu, kita bisa mulai melihat post mana yang diam-diam mengambil porsi terlalu besar.
Hanya saja, tidak semua pengeluaran konsumtif harus dihapus. Tetapi jika hampir setiap kenaikan pendapatan selalu diikuti kenaikan belanja, ada kemungkinan Anda mengalami lifestyle inflation.
Cobalah membalik kebiasaan tersebut. Ketika pendapatan naik, sebagian kenaikannya langsung dialokasikan ke tabungan, investasi, atau pelunasan utang sebelum digunakan untuk meningkatkan gaya hidup.
Tidak banyak gunanya memiliki target investasi agresif jika satu pengeluaran mendadak membuat semuanya harus dicairkan. Karena itu, dana darurat menjadi salah satu fondasi penting. Jumlahnya tidak harus sama untuk setiap orang karena kebutuhan seseorang yang hidup sendiri tentu berbeda dengan keluarga yang memiliki beberapa tanggungan.
Yang lebih penting adalah mulai membangunnya secara bertahap. Dana ini sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif aman dan mudah diakses ketika dibutuhkan.
Dana darurat memberikan ruang untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang. Ketika ada kebutuhan mendesak, Anda tidak langsung bergantung pada kartu kredit, BNPL, atau pinjaman.
Salah satu jebakan pengeluaran modern adalah melihat cicilan berdasarkan nilai bulanannya. Cicilan Rp300.000 mungkin terlihat kecil. Namun, jika ada lima atau enam cicilan serupa pada saat bersamaan, jumlahnya bisa mulai mengambil porsi signifikan dari pendapatan.
Untuk itu, sebelum mengambil cicilan baru, lihat seluruh kewajiban yang sudah berjalan. Hitung bukan hanya apakah cicilan baru masih bisa dibayar, tetapi apakah setelah membayarnya Anda masih mampu menabung dan menghadapi pengeluaran tak terduga.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks inklusi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 93,61%, sementara indeks literasi keuangan berada di 69,57%.
Angka ini menunjukkan akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan sudah sangat luas. Tantangannya adalah memastikan setiap fasilitas digunakan karena memang sesuai kebutuhan, bukan hanya karena mudah tersedia.
Mengurangi pengeluaran memiliki batas. Setelah kebutuhan dan gaya hidup sudah cukup efisien, langkah berikutnya adalah membangun aset.
Tetapkan tujuan yang jelas. Bisa berupa dana pendidikan anak, membeli rumah, persiapan pensiun, modal usaha, atau membangun sumber pendapatan lain.
Setelah itu, tentukan jangka waktu dan instrumen yang sesuai. Investasi sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan dan kemampuan menerima risiko, bukan karena sedang populer atau menjanjikan keuntungan tinggi.
Financial freedom pada akhirnya dibangun dari selisih antara apa yang kita hasilkan dan apa yang kita habiskan. Selisih itulah yang perlahan dapat diubah menjadi aset.
Semakin banyyak aset dan tanggungan yang dimiliki, semakin penting pula memikirkan perlindungan. Midnset seperti ini patut Anda miliki.
Seseorang bisa bertahun-tahun membangun tabungan, aset, dan rencana finansial. Namun, risiko seperti meninggal dunia atau ketidakmampuan total tetap dapat memengaruhi kemampuan keluarga mempertahankan rencana tersebut.
Agar tujuan finansial tetap terjaga, Manulife Dynamic Wealth Assurance (MDWA) hadir sebagai solusi yang melindungi Anda dari segala kejadian tak terduga. Produk asuransi jiwa dwiguna ini dengan tiga pilihan plan, masa pembayaran premi mulai dari satu tahun, dan masa pertanggungan hingga 30 tahun.
Pilihan manfaatnya berbeda sesuai plan yang bisa disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan finansial Anda dalam jangka panjang, seperti Manfaat Pembayaran Tunai Tahunan, Manfaat Beasiswa, Manfaat Akhir Masa Pertanggungan, serta manfaat atas risiko meninggal dunia karena kecelakaan atau Ketidakmampuan Total Tetap sesuai ketentuan polis.
Menuju financial freedom bukan berarti Anda tidak boleh membeli sesuatu yang diinginkan. Justru sebaliknya, kondisi keuangan yang sehat membuat Anda memiliki lebih banyak pilihan, termasuk menikmati hasil kerja tanpa terus dihantui kekhawatiran karena sudah ada proteksinya.
Sumber:
Kami akan segera merespon pesan Bapak/Ibu pada jam operasional kami.
Error:
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Kunjungi laman menarik lainnya:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia