Bayangkan memiliki aset bernilai tinggi seperti properti, bisnis keluarga, dan portofolio investasi, tetapi tetap kesulitan menyediakan dana tunai dalam waktu singkat ketika dibutuhkan. Kondisi ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan realitas yang semakin sering terjadi di kalangan keluarga affluent. Fenomena ini dikenal sebagai “asset rich but cash poor" yang berarti memiliki kekayaan besar di atas kertas tetapi terbatas dari sisi likuiditas.¹
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap ekonomi global terus berkembang menjadi semakin kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti dinamika geopolitik, pergerakan pasar keuangan yang fluktuatif, hingga perubahan arah suku bunga. Kondisi ini menciptakan tingkat ketidakpastian yang semakin sulit diprediksi dan diantisipasi.
International Monetary Fund (IMF) bahkan menyoroti adanya peningkatan risiko koreksi pasar yang tidak teratur (disorderly market correction), seiring dengan tingginya valuasi aset serta meningkatnya kerentanan dalam sistem keuangan global2.
Dampaknya pun terasa cukup luas, tidak hanya pada aset berisiko seperti saham, tetapi juga pada instrumen yang selama ini dikenal lebih defensif. Setelah sempat mencapai rekor harga tertinggi di tahun 2025, pasar emas global memasuki fase konsolidasi pada tahun 2026, dengan pergerakan yang masih dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti suku bunga, inflasi, dan sentimen pasar3.
Hal ini menunjukkan bahwa bahkan aset yang kerap dipandang relatif stabil tetap memiliki dinamika tersendiri. Dalam situasi seperti ini, memiliki kesiapan akses terhadap dana secara cepat menjadi semakin penting sebagai bagian dari pengelolaan keuangan yang seimbang.
Sebagian besar kekayaan keluarga affluent sering kali terkonsentrasi pada aset yang tidak likuid, seperti properti, bisnis keluarga, atau investasi jangka panjang.
Namun ketika kebutuhan dana muncul, realitasnya tidak selalu sesederhana menjual aset tersebut. Misalnya seperti saat ingin menjual properti. Hal ini dapat memakan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih lama dalam kondisi pasar yang melambat. Bisnis keluarga terkadang dapat mengalami tekanan arus kas saat kebutuhan likuiditas meningkat. Investasi jangka panjang pun tidak selalu optimal jika dicairkan dalam kondisi pasar yang tidak menguntungkan.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal ketiga tahun 2025 hanya mencapai 0,84%secara tahunan, dengan penjualan yang masih terkontraksi sebesar 1,29%.⁴
Hal ini menegaskan bahwa nilai aset yang besar tidak selalu berarti kesiapan likuiditas yang memadai.
Dalam praktik global, likuiditas bukan sekadar komponen tambahan, melainkan fondasi utama dalam pengelolaan kekayaan.
UBS, melalui kerangka Liquidity, Longevity, and Legacy (3L), menempatkan likuiditas sebagai prioritas pertama sebelum pertumbuhan jangka panjang dan perencanaan warisan.⁵ Tanpa likuiditas yang cukup, risiko yang dapat muncul antara lain:
Sebaliknya, likuiditas yang terkelola dengan baik berfungsi sebagai shock absorber yang memberikan kontrol dan stabilitas ketika kondisi ekonomi berubah. Bagi banyak keluarga, likuiditas bukan hanya soal akses dana, tetapi juga tentang menjaga ketenangan, fleksibilitas, dan kualitas pengambilan keputusan finansial.
Menjaga likuiditas bukan berarti menempatkan seluruh kekayaan dalam bentuk kas. Terlalu banyak dana menganggur dapat menggerus potensi pertumbuhan, sementara terlalu banyak aset tidak likuid dapat membatasi fleksibilitas.Karena itu, pendekatan yang semakin relevan saat ini adalah menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan, perlindungan, dan ketersediaan pendapatan yang terstruktur. Salah satunya melalui instrumen yang dapat memberikan proteksi terhadap risiko, menghadirkan predictable income stream, dan mengurangi kebutuhan untuk menjual aset inti di saat yang tidak ideal.
Proteksi Prima Pendapatan Berencana dari Manulife Indonesia hadir dengan kombinasi manfaat perlindungan jiwa dan pembayaran tunai tahunan, yang dapat membantu menghadirkan aliran manfaat finansial secara lebih terencana. Dengan pendekatan ini, Anda memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kekayaan dan kesiapan likuiditas jangka panjang. Pada akhirnya, kekayaan yang tangguh bukan hanya tentang seberapa besar nilainya, tetapi seberapa siap kekayaan tersebut mendukung kehidupan ketika kondisi berubah. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, likuiditas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sumber kendali. Karena di saat yang paling krusial, bukan hanya ukuran aset yang menentukan, tetapi kemampuan untuk mengaksesnya dengan tepat, cepat, dan tanpa harus mengorbankan tujuan jangka panjang #TemanGenerasi.
Sumber:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia