Informasi Layanan Klaim Manulife Indonesia. Selengkapnya

Selengkapnya
Lewati ke konten utama Lewati ke konten notifikasi
Back

Menjaga Aset Keluarga Tetap Bertahan di Tangan Generasi Berikutnya

Bagi banyak keluarga, perjalanan membangun aset adalah kisah panjang penuh dedikasi. Namun cerita tersebut tidak berhenti saat aset diwariskan. Tantangan yang lebih nyata sering kali justru dimulai setelahnya-ketika menjaga dan mengelola kekayaan lintas generasi menjadi ujian tersendiri. Tak hanya di Indonesia, secara global isu ini semakin relevan, seiring meningkatnya kesadaran bahwa mempertahankan nilai aset keluarga membutuhkan perencanaan yang lebih holistik dan berkelanjutan.

Seperti diperkirakan UBS, bahwa US$83 triliun kekayaan akan berpindah tangan dalam dua dekade ke depan1. Fenomena ini dikenal sebagai great wealth transfer, di mana terjadi gelombang perpindahan aset lintas generasi dalam skala besar.

Namun, besarnya nilai kekayaan tidak otomatis menjamin keberlanjutan. Tantangan utamanya ada pada kesiapan generasi penerus. Dalam banyak kasus, hanya sebagian kecil ahli waris yang benar-benar siap mengambil alih pengelolaan aset keluarga.

Gambaran ini terlihat dari fakta bahwa hanya sekitar 25% generasi penerus merasa siap mengelola kekayaan keluarga2. Angka ini merujuk pada berbagai studi global tentang family wealth transition yang menunjukkan rendahnya tingkat kesiapan generasi penerus, terutama dari sisi pemahaman finansial dan pengalaman mengelola aset. Sisanya masih menghadapi berbagai kendala, seperti:

  • Pemahaman finansial yang terbatas
  • Minimnya pengalaman mengelola aset besar
  • Ketidaksiapan dalam mengambil keputusan strategis

Tak jarang, aset yang semula dibangun sebagai fondasi keluarga justru menghadapi tantangan dalam keberlanjutannya. Risiko penyusutan nilai dapat muncul lebih cepat dari yang diperkirakan, salah satunya akibat minimnya literasi keuangan. Padahal, kesiapan dalam memahami dan mengelola aset menjadi kunci. Tanpa hal tersebut, kompleksitas aset bukan menambah nilai, melainkan menghadirkan risiko baru bagi keuangan keluarga.

Kurangnya Pemahaman Mengelola Warisan

Di Indonesia, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BPS pada 2025 menunjukkan tingkat literasi keuangan baru mencapai 66,46%, sementara inklusi keuangan sudah 80,51%3. Artinya, akses terhadap produk keuangan sudah cukup luas, tetapi pemahaman untuk mengelolanya belum sepenuhnya sejalan

Dalam konteks warisan, kesenjangan ini menjadi penting karena aset yang diwariskan biasanya lebih kompleks dibanding keuangan sehari-hari. Selain itu, bentuk aset juga berpengaruh.

Banyak kekayaan keluarga berada dalam bentuk properti atau bisnis. Nilainya besar di atas kertas, tetapi tidak selalu mudah dicairkan atau dikelola. Akibatnya sering muncul beberapa risiko, seperti:

  • Aset sulit dibagi secara adil
  • Likuiditas terbatas saat dibutuhkan
  • Potensi konflik antar ahli waris

Tanpa strategi yang tepat, keputusan yang diambil bisa merugikan dalam jangka panjang.

Dari sisi perilaku, studi Bank of America Private Bank menunjukkan 72% pemilik legacy wealth menganggap penting untuk meninggalkan warisan kepada generasi berikutnya4. Namun, keinginan ini tidak selalu diikuti dengan perencanaan yang jelas.

Di sisi lain, Cerulli Associates memperkirakan hingga US$124 triliun aset akan berpindah tangan sampai 2048, dengan sebagian besar diterima generasi yang memiliki pendekatan berbeda terhadap keuangan5.

Perbedaan ini bisa menjadi peluang, tetapi juga berisiko jika tidak diimbangi kesiapan. Beberapa tantangan yang mungkin muncul:

  • Perubahan preferensi investasi
  • Perbedaan toleransi risiko
  • Gaya pengelolaan yang tidak konsisten

Penyangga Finansial untuk Hidup yang Stabil

Di tengah dinamika keuangan yang semakin kompleks, perencanaan warisan bertransformasi menjadi upaya membangun kesinambungan. Tujuannya bukan sekadar memastikan aset tersalurkan, melainkan menjaga agar nilainya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya. Dari sinilah berbagai aspek baru mulai mendapat perhatian, sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan aset keluarga. Di antaranya:

  1. Membangun pemahaman dan edukasi finansial bagi generasi penerus
  2. Komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan di dalam keluarga
  3. Menentukan instrumen keuangan yang selaras dengan tujuan jangka panjang

Dalam konteks ini, asuransi tidak lagi hanya dipandang sebagai proteksi, tetapi juga bisa menjadi “sekolah awal” untuk membangun kesiapan finansial jangka panjang. Lewat kebiasaan.

sederhana seperti memiliki dan membayar premi, seseorang mulai belajar cara berpikir yang dibutuhkan untuk mengelola warisan, bukan sekadar menerimanya.

Ada beberapa pembelajaran kunci yang terbentuk dari kebiasaan ini:

  • Menyadari bahwa tidak semua dana harus dioptimalkan untuk return, sebagian perlu diamankan untuk ketahanan
  • Memahami cost of protection, sehingga tidak seluruh aset digunakan untuk konsumsi atau spekulasi
  • Melihat pentingnya likuiditas, terutama ketika aset berbentuk properti atau bisnis

Kebiasaan ini perlahan membentuk pola pikir bahwa kekayaan perlu dijaga, bukan hanya dinikmati.

Asuransi juga mendorong perubahan dari pola pikir reaktif menjadi lebih terencana. Tanpa perlindungan, keputusan finansial sering diambil dalam kondisi tertekan, seperti menjual aset saat darurat. Dengan asuransi, risiko sudah dipikirkan sejak awal, sehingga keluarga memiliki dana siap pakai tanpa harus mengganggu aset utama.

Dalam konteks warisan, kondisi ini memberi ruang bagi ahli waris untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar. Mereka punya waktu untuk memahami struktur aset, berdiskusi, dan menata strategi dengan lebih rasional.

Lebih jauh, asuransi membantu memperkenalkan pentingnya likuiditas. Banyak warisan berbentuk aset yang nilainya besar, tetapi tidak mudah dicairkan. Kehadiran asuransi membuat kebutuhan mendesak bisa dipenuhi tanpa harus menjual aset produktif.

Pada akhirnya, asuransi ikut membentuk cara pandang terhadap warisan itu sendiri. Warisan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang diterima dan dihabiskan, tetapi sebagai sistem yang perlu dijaga. Dari kebiasaan kecil seperti membayar premi, muncul pemahaman bahwa keberlanjutan finansial #TemanGenerasi dibangun dari perencanaan yang disiplin dan konsisten.


Temukan Artikel Lainnya


Tentang Manulife

Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia

Selengkapnya


Layanan

Layanan Digital Manulife

Selengkapnya


Artikel

Kumpulan artikel Manulife Indonesia.

Lihat Artikel Lainnya