Informasi Layanan Klaim Manulife Indonesia. Selengkapnya

Selengkapnya

Informasi Layanan Klaim Manulife Indonesia. Selengkapnya

Selengkapnya
Lewati ke konten utama Lewati ke konten notifikasi
Back

Perencanaan Keuangan agar Padel Tetap Ramah di Kantong

Sekitar setahun terakhir, padel mendadak menjadi olahraga yang digemari di berbagai negara, termasuk Indonesia. Lapangan padel bermunculan di kota-kota besar, jadwal bermain penuh, dan komunitasnya tumbuh cepat. Namun, di balik tren positif ini, ada fakta yang kerap luput diperhatikan. Ya, fakta yang berpotensi menguras isi dompet jika Anda melewatkan informasi berikut

Rencanakan Kesehatan Anda

Popularitas padel tidak datang tanpa sebab. Ada beberapa hal yang membuat olahraga ini bisa dengan begitu mudah digemari, di antaranya:

  • Lebih mudah diakses daripada tenis
  • Bersifat sosial
  • Bisa dimainkan lintas usia

Sehingga, banyak orang yang awalnya hanya ingin mencoba, justru akhirnya menjadikan padel sebagai rutinitas mingguan. Dari sinilah muncul satu konsekuensi yang sering terlupakan: semakin sering bermain, semakin besar pula risiko cidera jika tidak ditemani kesiapan yang memadai.

Tahukah Anda? Padel sudah ada sejak tahun 1969, diciptakan oleh Enrique Corcuera di Meksiko dengan nama "Paddle Corcuera".1 Meski demikian, olahraga yang menggabungkan unsur tenis dan squash ini justru berkembang pesat di Spanyol, hingga akhirnya menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban Eropa.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1991 dengan berdirinya International Padel Federation (IPF) di Madrid sebagai organisasi resmi pertama yang menaungi olahraga ini. Sejak saat itu, padel berkembang pesat di Eropa dan Amerika Latin, lalu menyebar ke berbagai negara lain, termasuk Indonesia.

Dalam dua dekade terakhir, IPF juga aktif mendorong standarisasi aturan permainan, lapangan, serta keselamatan pemain. Meski demikian, di level rekreasional, banyak pemain yang masih bermain tanpa pendampingan pelatih atau pemahaman teknik dasar yang memadai.

Pertumbuhan Padel di Indonesia yang Melonjak Tajam

Puncak pertumbuhan padel di Indonesia terjadi pada 2025. Berdasarkan Indonesia Padel Report dari Playtomic, jumlah klub padel meningkat hingga 295% dalam waktu singkat. Laporan yang sama juga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan padel tercepat di kawasan Asia Pasifik, sejajar dengan Singapura dan Thailand

Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga merambah kota-kota besar lain seperti Bandung, Surabaya, dan Bali. Kehadiran lapangan indoor maupun outdoor semakin memudahkan akses, sekaligus memperluas basis pemain baru dari berbagai latar belakang.

Fenomena ini bukan sekadar tren olahraga. Padel telah berubah menjadi simbol gaya hidup aktif, sosial, dan modern. Bermain padel kini identik dengan aktivitas jejaring sosial, komunitas, hingga penanda kemapanan baru di kalangan profesional urban.

Namun, di balik raket mahal, outfit sporty, dan biaya sewa lapangan yang tidak murah, ada satu pos pengeluaran yang sering luput dari perhitungan: biaya pemulihan cidera (recovery).

Cidera yang Sering Diremehkan Pemain Padel

Salah satu cidera yang paling sering dialami pemain padel adalah "padel elbow”, istilah populer untuk nyeri pada siku akibat gerakan pukulan berulang. Cidera ini mirip dengan tennis elbow, tetapi pada padel risikonya cenderung lebih tinggi.

Penyebabnya terletak pada karakter permainan padel itu sendiri:

  • Lapangan yang lebih sempit
  • Pantulan bola dari dinding kaca
  • Pukulan pendek dengan intensitas tinggi
  • Posisi tubuh yang sering tidak ideal

Semua faktor ini menuntut refleks cepat dan kerja sendi yang berulang.

Masalahnya, cidera seperti padel elbow sering kali tidak terasa serius di awal. Banyak pemain tetap memaksakan diri bermain karena nyeri dianggap ringan. Padahal, jika dibiarkan, rasa sakit dapat menetap dan berujung pada:

  • Fisioterapi rutin
  • Konsumsi obat anti inflamasi
  • Jeda bermain dalam jangka panjang

Di titik ini, padel tidak lagi sekadar soal keringat dan kesenangan, tetapi juga soal biaya dan waktu pemulihan.

Cidera Lain yang Mengintai Pemain Padel

Padel elbow bukan satu-satunya risiko. Cidera lain yang kerap terjadi di bagian:

  • Lutut
  • Pergelangan kaki
  • Bahu
  • Punggung bawah
  • Otot betis dan hamstring

Gerakan lateral cepat, perubahan arah mendadak, serta pantulan dinding yang sulit diprediksi membuat tubuh bekerja ekstra, terutama bagi pemain rekreasional yang bermain tanpa persiapan fisik memadai.

Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di National Library of Medicine (NIH) menunjukkan bahwa sekitar 40% hingga 95% pemain padel pernah mengalami cidera selama mereka bermain2. Rentang angka ini memang bervariasi tergantung metode penelitian, tapi tetap menegaskan satu hal: cidera bukan pengecualian dalam padel.

Bahkan, tingkat kejadian cidera dilaporkan mencapai sekitar 8 cidera per 1.000 pertandingan, dengan siku, lutut, dan bahu sebagai area yang paling sering terdampak. Fakta ini menegaskan bahwa padel adalah olahraga berintensitas sedang hingga tinggi, bukan sekadar aktivitas santai.

Ketika Cidera Menjadi Beban Finansial

Cidera olahraga tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada kondisi finansial. Biaya konsultasi dokter, fisioterapi, obat-obatan, hingga potensi hilangnya waktu kerja bisa menjadi pengeluaran tak terduga. Dalam beberapa kasus, biaya pemulihan justru lebih mahal dibanding biaya bermain padel itu sendiri.

Bagi pekerja profesional, cidera juga bisa berdampak pada produktivitas. Rasa nyeri kronis dapat mengganggu fokus, mobilitas, bahkan kualitas hidup sehari-hari.

Di sinilah sudut pandang perlu diubah. Pertanyaannya bukan lagi “padel sehat atau tidak”, melainkan: sejauh mana Anda siap secara fisik, mental, dan finansial?

Berikut ini tahapan persiapan penting yang perlu dilakukan sebelum bermain padel:

1. Persiapan Fisik: Jangan Langsung All Out

Bermain padel dengan aman dimulai dari kesiapan fisik. Pemanasan dan pendinginan seharusnya menjadi kebiasaan, bukan formalitas. Mengatur frekuensi bermain, menggunakan sepatu yang sesuai, serta memilih raket yang tepat dengan kemampuan juga membantu menurunkan risiko cidera.

Yang sering diabaikan adalah sinyal tubuh. Rasa nyeri bukan tanda kelemahan, melainkan peringatan. Dalam banyak kasus, istirahat justru menjadi strategi terbaik untuk menjaga performa jangka panjang.

2. Persiapan Mental: Tetap Fun, Bukan Ambisius

Padel pada dasarnya adalah olahraga sosial. Ketika ambisi mengalahkan kesadaran, risiko cidera justru meningkat. Bermain dengan rileks, menerima kesalahan sebagai bagian dari permainan, dan menikmati proses jauh lebih menyehatkan secara mental maupun fisik.

Kelelahan mental sering kali membuat refleks melambat dan pengambilan keputusan menjadi kurang tepat, menjadi dua hal yang sangat krusial dalam permainan padel.

3. Persiapan Finansial: Sehat Itu Perlu Direncanakan

Aktif berolahraga tanpa perencanaan finansial yang matang bisa menjadi bumerang. Menganggarkan biaya hobi, termasuk potensi biaya pemulihan, adalah langkah bijak. Di sinilah perlindungan kesehatan menjadi bagian dari gaya hidup aktif, bukan sebagai bentuk pesimisme, melainkan kesadaran akan risiko.

Dengan adanya perlindungan, bukan berarti berharap cidera terjadi. Justru sebaliknyaHal ini menjadi #TemanGenerasi yang memastikan hidup tetap berjalan normal saat hal tak terduga datang.

Jika sesuatu terjadi, hobi tetap bisa dinikmati, pemulihan bisa optimal, dan rencana keuangan tidak terganggu.

Padel memang menyenangkan. Namun lebih menyenangkan lagi jika Anda bisa bermain dengan tenang tanpa khawatir pada tubuh dan dompet.

Jadi, sudah siap main padel lagi hari ini?


Sumber: 

  1. International Padel Federation (IPF), Key Milestones in The History of Padel via Padeflip

  2. PubMed, Incidence, prevalence and nature of injuries in padel: a systematic review, PubMed National Library of Medicine

 

Hubungi Life Planner Kami!

Hubungi Kami Sekarang!

 

  • Saya

    Manulife

  • Saya menyatakan bahwa Saya telah membaca, memahami dan menyetujui:

    1. Saya telah membaca dan memahami kebijakan privasi  Manulife  Indonesia  yang dapat diakses dengan mengklik  tautan Kebijakan Privasi

    2. Saya telah memahami mengenai tujuan dan konsekuensi dari pengumpulan dan pemrosesan data pribadi Saya (termasuk kepada siapa saja data pribadi Saya akan dibagikan) serta hak Saya sebagai subjek data pribadi.

    3. Saya memberikan persetujuan Saya kepada Manulife Indonesia untuk melakukan pengumpulan dan pemrosesan data pribadi Saya, untuk tujuan pemrosesan data pribadi dalam kebijakan privasi Manulife Indonesia dimana persetujuan yang sah diperlukan sebagai dasar hukum untuk pemrosesan.

  • Dengan ini Saya setuju memberikan data pribadi Saya kepada Manulife Indonesia dan Saya memberikan persetujuan kepada Manulife Indonesia untuk menghubungi Saya melalui media komunikasi pribadi Saya untuk memperoleh penawaran atas produk Manulife Indonesia dan/atau kegiatan pemasaran lainnya

  • Ini adalah kolom yang harus diisi
  • Terima kasih telah menghubungi Manulife Indonesia.

    Kami akan segera merespon pesan Bapak/Ibu pada jam operasional kami.

     

    Siap Menunggu

    Error Page

    Wah, tampaknya ada yang salah!

    Error: 

    Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.

    Temukan Artikel Lainnya


    Tentang Manulife

    Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia

    Selengkapnya


    Layanan

    Layanan Digital Manulife

    Selengkapnya


    Artikel

    Kumpulan artikel Manulife Indonesia.

    Lihat Artikel Lainnya