Dalam beberapa tahun terakhir, satu hal terasa semakin jelas di pasar keuangan global: ketidakpastian. Hal ini bukan lagi pengecualian, melainkan kondisi yang terus berulang. Dari fluktuasi suku bunga, ketegangan geopolitik, hingga dinamika inflasi yang belum sepenuhnya stabil, investor dihadapkan pada lanskap yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.
Di tengah kondisi ini, cara pandang terhadap investasi pun perlahan berubah. Tidak lagi semata mengejar imbal hasil, tetapi juga bagaimana menjaga stabilitas, melindungi nilai aset, dan pada akhirnya, memastikan keberlanjutan kekayaan lintas generasi atau yang sering disebut sebagai merencanakan warisan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keputusan finansial hari ini tidak lagi cukup dilihat dari performa jangka pendek, melainkan juga dari seberapa jauh keputusan tersebut mampu menopang tujuan hidup jangka panjang sebuah keluarga.
Secara historis, volatilitas pasar memang bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, intensitas dan frekuensinya meningkat.
Menurut International Monetary Fund (IMF), prospek pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi berbagai tekanan, mulai dari suku bunga tinggi, inflasi yang belum sepenuhnya mereda, hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar keuangan lintas negara1. Senada dengan itu, World Bank juga menyoroti bahwa dunia saat ini berada dalam fase pertumbuhan yang lebih rendah, dengan tingkat ketidakpastian yang tetap tinggi2.
Data di atas memperkuat konteks bahwa keputusan investasi saat ini perlu mempertimbangkan resilience atau daya tahan jangka panjang, bukan hanya momentum pasar sesaat. Di sisi lain, McKinsey & Company menunjukkan bahwa meski nilai kekayaan global terus meningkat, distribusi dan stabilitasnya semakin bergantung pada kemampuan individu dan keluarga dalam mengelola risiko, bukan sekadar mengejar return3.
Artinya, tantangan investor hari ini bukan hanya “bagaimana mendapatkan keuntungan”, tetapi juga “bagaimana memastikan aset tetap bertahan dan berkembang dalam kondisi yang tidak pasti”. Dalam konteks ini, konsep investasi mulai bergeser dari return-oriented menjadi resilience-oriented.
Investor yang sebelumnya fokus pada instrumen dengan potensi imbal hasil tinggi kini mulai mempertimbangkan hal lain seperti:
Menurut BlackRock, perusahaan investasi multinasional yang berbasis di Amerika Serikat, BlackRock, sebanyak lebih dari 60% investor global kini menjadikan manajemen risiko dan perlindungan nilai aset sebagai prioritas utama, bahkan di atas potensi keuntungan jangka pendek4. Fenomena ini bahkan juga terlihat di Indonesia.
Investor ritel dan high-net-worth individuals (HNWI) mulai lebih aktif mencari instrumen yang tidak hanya memberikan return, tetapi juga menjaga kestabilan portofolio dalam jangka panjang. Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika tujuan investasi tidak hanya untuk akumulasi kekayaan, tetapi juga untuk menjaga kualitas hidup keluarga dan kesinambungan nilai yang ingin diwariskan.
Merencanakan warisan bukan sekadar soal pewarisan aset, tetapi tentang bagaimana memastikan bahwa kekayaan yang dibangun hari ini tetap relevan, terlindungi, dan bisa memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Namun, fakta menunjukkan bahwa proses ini tidak selalu berjalan mulus.
Pasalnya, ada sekitar 70% transfer kekayaan keluarga gagal bertahan hingga pada generasi kedua, dan angka ini meningkat hingga lebih dari 90% pada generasi ketiga5. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya perencanaan yang matang, termasuk dalam hal merencanakan struktur investasi, mengatur manajemen risiko, kurangnya kesiapan ahli waris dan perlindungan aset.:
Dalam kondisi pasar yang stabil, kelemahan ini mungkin tidak langsung terlihat. Namun dalam situasi penuh volatilitas seperti saat ini, celah tersebut bisa menjadi titik risiko yang signifikan. Bayangkan sebuah keluarga dengan portofolio investasi yang cukup besar, tetapi terkonsentrasi pada satu atau dua instrumen berisiko tinggi.
Dalam kondisi pasar bullish, strategi ini mungkin terlihat efektif. Namun ketika terjadi koreksi tajam, nilai aset bisa tergerus dalam waktu singkat, bahkan sebelum sempat dialihkan ke generasi berikutnya. Tanpa struktur merencanakan warisan yang jelas, dampaknya bisa berlapis seperti:
Menghadapi kondisi ini, pendekatan yang lebih relevan bukan lagi sekadar “investasi agresif” atau “konservatif”, tetapi investasi yang terstruktur dan terintegrasi dengan perencanaan jangka panjang. Beberapa prinsip yang semakin banyak digunakan antara lain:
1. Diversifikasi yang Lebih Dalam
Bukan hanya lintas instrumen, tetapi juga lintas geografis dan sektor. Diversifikasi yang baik membantu mengurangi ketergantungan pada satu sumber pertumbuhan atau satu risiko tertentu.
2. Fokus pada Cash Flow, bukan hanya Capital Gain
Aset yang menghasilkan arus kas cenderung lebih stabil dalam jangka panjang. Arus kas yang sehat juga memberi ruang yang lebih baik untuk menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, bahkan ketika market pasar sedang tidak bersahabat.
3. Integrasi dengan Perencanaan WarisanMerencanakan warisan
Investasi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi distribusi aset ke depan. Dengan begitu, keputusan investasi yang dibuat hari ini tetap selaras dengan tujuan keluarga di masa mendatang.
4. Proteksi terhadap Risiko Ekstrem
Persiapkan proteksi untuk menghadapi berbagai risiko, tTermasuk risiko kesehatan, kematian, atau kejadian tak terduga lainnya. Karena dalam praktiknya, risiko terbesar dalam perencanaan keuangan sering kali bukan berasal dari marketpasar semata, melainkan dari peristiwa hidup yang datang tanpa peringatan.
Di titik ini, semakin jelas bahwa investasi saja tidak cukup. Ada lapisan lain yang perlu melengkapi strategi tersebut
Melalui berbagai publikasi risetnya, Swiss Re Institute menyoroti bahwa perlindungan finansial memainkan peran besar dalam membangun financial resilience, baik untuk individu, keluarga, maupun perencanaan kekayaan jangka panjang7. Ini memperkuat posisi asuransi sebagai bagian dari strategi merencanakan warisan, bukan sekadar proteksi terhadap risiko, tetapi juga instrumen untuk menjaga stabilitas, menyediakan likuiditas, dan melindungi keluarga dari tekanan finansial yang tidak direncanakan.
Hanya saja, dalam konteks merencanakan warisan, asuransi sering kali menjadi elemen yang kurang diperhatikan, padahal perannya cukup krusial. Padahal, asuransi bukan hanya alat proteksi, tetapi juga bagian dari strategi finansial jangka panjang yang membantu memastikan bahwa rencana yang sudah disusun tetap berjalan, bahkan ketika terjadi risiko yang tidak diharapkan.
Beberapa fungsi penting asuransi dalam konteks ini antara lain:
Pada akhirnya, investasi yang bijak bukan hanya soal bertumbuh di saat pasar sedang baik, tetapi juga tentang tetap terlindungi saat kondisi tidak berjalan sesuai rencana. Di sinilah pentingnya membangun strategi finansial yang seimbang, di mana menggabungkan pertumbuhan, ketahanan, dan perlindungan.
Pasar akan selalu bergerak. Risiko tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun yang bisa dikendalikan adalah bagaimana kita menyusun strategi yang tidak hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga relevan untuk jangka panjang.
Ketika dunia yang semakin tidak pasti, pendekatan yang paling bijak bukanlah mengejar hasil tertinggi, melainkan memastikan bahwa apa yang sudah dibangun tetap terlindungi, terkelola, dan dapat diwariskan dengan baik. Dalam konteks merencanakan warisan, asuransi tentunya memegang peran penting sebagai jembatan antara nilai yang dibangun hari ini dan keamanan finansial yang ingin diwariskan untuk masa depan #TemanGenerasi.
Sumber:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia