Informasi Layanan Klaim Manulife Indonesia. Selengkapnya

Selengkapnya
Lewati ke konten utama Lewati ke konten notifikasi
Back

Menanamkan Pemahaman Wealth dan Warisan Pada Anak Sejak Dini

Membicarakan kekayaan keluarga bersama anak memang kerap terasa sensitif, sehingga tidak sedikit orang tua yang memilih menyampaikannya secara bertahap dengan pendekatan yang lebih nyaman. Pada dasarnya, pengenalan tentang wealth tidak harus dimulai dari angka atau nominal yang besar, melainkan dapat dimulai dari pemahaman sederhana bahwa uang, aset, dan warisan merupakan bagian dari tanggung jawab yang perlu dijaga dan dikelola dengan bijak.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di Indonesia, seiring dengan semakin luasnya akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS, indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51%1, sementara indeks literasi keuangan berada di 66,46%, yang menunjukkan adanya peluang untuk terus memperkaya pemahaman, seiring dengan kemudahan akses yang semakin terbuka.

Lakukan Edukasi Secara Bertahap

Wealth sendiri tidak hanya terbatas pada uang tunai, melainkan mencakup berbagai aset seperti rumah, tanah, bisnis, hingga instrumen investasi dan proteksi, yang sering kali juga disertai dengan kewajiban serta berbagai keputusan penting dalam keluarga. Ketika anak mulai diperkenalkan pada konsep ini secara utuh, mereka dapat memahami bahwa kekayaan bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, melainkan sesuatu yang memiliki nilai, proses, dan tanggung jawab di baliknya.

Dalam praktiknya, setiap aset memiliki karakteristik tersendiri—rumah dapat menjadi aset jangka panjang, bisnis berpotensi memberikan penghasilan, sementara investasi berkembang seiring waktu dengan dinamika yang menyertainya—sehingga pemahaman ini dapat membantu anak melihat bahwa pengelolaan wealth membutuhkan perhatian dan kebijaksanaan.

Sejalan dengan itu, edukasi kepada anak dapat dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan dengan keseharian mereka, dimulai dari hal-hal yang paling dekat, sehingga proses mengenal dan memahami wealth terasa lebih natural dan mudah diterima.

Tahapan edukasi yang bisa dilakukan antara lain:

  • Saat anak masih kecil, orang tua dapat mengenalkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan
  • Saat anak mulai remaja, mulai ajarkan cara membuat anggaran, menabung, dan memahami risiko utang
  • Saat sudah dewasa, libatkan mereka dalam diskusi tentang aset keluarga, tujuan warisan, dan tanggung jawab menjaga kekayaann
  • Saat anak sudah matang secara finansial, keluarga dapat mulai membahas struktur aset, penerima manfaat, serta rencana perlindungan jangka panjang

Percakapan tentang aset antar orang tua dan anak menjadi semakin penting karena transfer kekayaan antar generasi sedang menjadi isu besar secara global. Dalam artikel Reuters yang mengutip laporan UBS, transfer kekayaan privat global diperkirakan mencapai USD83 triliun dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Di Asia Pasifik, lebih dari 40% keluarga kaya disebut sudah berada dalam proses atau tahap perencanaan transfer kekayaan ke generasi berikutnya2.

Tantangan Menjaga Warisan Antargenerasi

Nilai aset yang besar tidak otomatis menjamin keberlanjutan. CFA Institute mencatat istilah “kutukan generasi ketiga” sering digunakan untuk menggambarkan kekayaan keluarga yang sulit bertahan lintas generasi3. Angka 70% kekayaan hilang pada generasi kedua dan 90% pada generasi ketiga memang sering dikutip, tetapi sebaiknya dibaca sebagai peringatan, bukan kepastian.

Dinamika dalam mempersiapkan penerus keluarga sering kali tidak semata ditentukan oleh besarnya aset yang dimiliki, melainkan juga oleh bagaimana komunikasi dan pemahaman bersama dibangun sejak awal. Ketika nilai dan tujuan keluarga dapat dibicarakan dengan lebih terbuka, termasuk dalam hal pengelolaan dan penerusan aset, proses pengambilan keputusan pun dapat terasa lebih terarah dan tenang.

Seiring bertambahnya kedewasaan anak, keluarga dapat mulai mengenalkan gambaran mengenai struktur aset dan rencana ke depan secara bertahap, dengan pendekatan yang ringan dan relevan. Percakapan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti aset apa saja yang menjadi bagian penting untuk dijaga, nilai apa yang ingin diteruskan, serta bagaimana keluarga mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan, sehingga pemahaman tersebut tumbuh secara alami dan berkesinambungan.

Struktur yang baik membantu keluarga memahami beberapa hal penting, seperti:

  •  Aset apa saja yang dimiliki keluarga;
  • Siapa penerima manfaatnya;
  • Bagaimana aset akan dibagi;
  • Dokumen legal apa saja yang perlu disiapkan;
  • Bagaimana keluarga menjaga likuiditas saat terjadi kondisi darurat;
  • Siapa yang akan mengambil keputusan jika pewaris tidak lagi mampu melakukannya.

Tujuannya bukan membuat keluarga menjadi kaku, melainkan mengurangi ruang salah paham. Dengan struktur yang jelas, warisan tidak hanya menjadi pembagian harta, tetapi juga bagian dari perencanaan keberlanjutan keluarga.

Asuransi juga dapat menjadi bagian dari struktur tersebut. Fungsinya bukan menggantikan seluruh rencana warisan, melainkan membantu keluarga menjaga perlindungan dan likuiditas saat risiko terjadi. Proteksi Prima Perlindungan Andalan (PPPA) merupakan salah satu produk yang memberikan perlindungan finansial relevan dalam konteks perencanaan warisan. Proteksi Prima Perlindungan Andalan memberikan santunan yang dapat segera dimanfaatkan sebagai dana likuid, sehingga keluarga tidak perlu mengambil langkah drastis seperti menjual aset utama.

Dengan dukungan dari Proteksi Prima Perlindungan Andalan (PPPA), keluarga memiliki fleksibilitas untuk menjaga stabilitas finansial tanpa mengganggu rencana jangka panjang, menjaga keberlangsungan finansial selama masa transisi dan memberi waktu untuk mengambil keputusan rasional dan terencana.

Melalui peran ini, Proteksi Prima Perlindungan Andalan (PPPA) tidak hanya menjadi produk proteksi, tetapi juga bagian dari fondasi perencanaan yang lebih besar. Dengan perlindungan yang terstruktur, tujuan warisan dapat tetap terjaga, sementara keluarga memiliki ketahanan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.

Pada akhirnya, perencanaan warisan tidak berhenti pada apa yang ditinggalkan, tetapi juga bagaimana warisan tersebut dipahami. Mengedukasi anak tentang wealth bukan berarti membebani mereka, melainkan membekali mereka untuk memahami nilai, risiko, dan tanggung jawab di baliknya.

Dengan pemahaman yang kuat dan dukungan perlindungan yang tepat, warisan tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan, tetapi juga siap dijaga dan diteruskan dengan lebih bijak oleh #TemanGenerasi.

 


Temukan Artikel Lainnya


Tentang Manulife

Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia

Selengkapnya


Layanan

Layanan Digital Manulife

Selengkapnya


Artikel

Kumpulan artikel Manulife Indonesia.

Lihat Artikel Lainnya