Kehidupan saat ini terasa semakin mudah, terutama jika dihubungkan dengan konsumsi barang dan jasa. Ketika pembayaran tunai sulit untuk dicapai, ada pilihan “bayar nanti” alias paylater yang membuat berbagai pengeluaran semakin mudah untuk digapai.
Lalu bagaimana dengan kartu kredit? Fasilitas kredit yang lebih dulu dikenal masyarakat ini ternyata tetap eksis dipakai sebagai alat pembayaran.
Hal ini terlihat dari data OJK per Mei 2026, di mana baki debet Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan mencapai Rp30,1 triliun dengan 31,76 rekening yang diartikan tumbuh 37,72% per tahun. Pada perusahaan pembiayaan, pembiayaan BNPL mencapai Rp13,18 triliun atau naik 53,78% secara tahunan, dengan rasio pembiayaan bermasalah bruto 3,44%.
Namun, angka tersebut tidak berarti paylater selalu buruk atau kartu kredit otomatis lebih aman. Keduanya adalah fasilitas kredit, sehingga pertanyaan terpenting bukan “mana yang paling mudah”, melainkan “berapa total biaya dan dari mana pembayaran akan dilakukan”.
Paylater umumnya terhubung langsung dengan platform atau merchant dan menawarkan pembayaran tertunda atau cicilan untuk transaksi tertentu. Kartu kredit memberi limit berulang yang dapat dipakai di jaringan penerima kartu, kemudian ditagihkan dalam satu siklus bulanan.
Pada paylater, tenor dan cicilan sering terlihat sejak transaksi dilakukan. Namun, biaya layanan, bunga atau manfaat ekonomi, biaya administrasi, dan denda dapat berbeda antarpenyedia. Pada kartu kredit, transaksi dapat tidak terkena bunga apabila tagihan dibayar penuh sesuai jatuh tempo, sedangkan saldo yang digulirkan akan dikenai bunga sesuai ketentuan penerbit.
Dalam upaya melindung Masyarakat ke dalam jerat utang kredit yang semakin kencang, Bank Indonesia menetapkan batas maksimum bunga kartu kredit sebesar 1,75% per bulan atau 21% per tahun. Angka itu adalah batas maksimum, bukan alasan untuk mempertahankan saldo. Semakin lama tagihan berputar, semakin besar bagian arus kas yang terserap oleh biaya kredit.
Paylater dapat membantu ketika transaksi sudah direncanakan, total biaya diketahui sejak awal, dan dana pembayarannya tersedia dalam arus kas berikutnya. Contohnya adalah kebutuhan yang waktunya tidak dapat ditunda, sementara penerimaan yang pasti baru masuk beberapa hari kemudian.
Manfaatnya juga lebih masuk akal jika tenor pendek, jumlah cicilan tunggal masih mudah dipantau, dan tidak ada biaya tersembunyi. Promo bukan dasar keputusan apabila pembelian sebenarnya tidak dibutuhkan.
Kartu kredit dapat berguna untuk mengonsolidasikan transaksi dalam satu tagihan, memesan perjalanan, atau memanfaatkan periode pembayaran sebelum jatuh tempo. Nilai tersebut baru terasa apabila pengguna disiplin melunasi tagihan penuh dan memahami biaya tahunan maupun biaya transaksi tertentu.
Kartu kredit juga memudahkan pencatatan karena transaksi berada dalam satu laporan. Namun, kenyamanan ini dapat berbalik menjadi beban ketika pembayaran minimum dianggap cukup sebagai kebiasaan bulanan.
OJK mengatur penyelenggaraan BNPL dengan menekankan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, pengelolaan data, analisis kelayakan, keterbukaan informasi, dan mekanisme penagihan. Namun, kemudahan menggunakan layanan tetap perlu diimbangi dengan kebiasaan membaca perjanjian, memahami biaya, serta mengetahui konsekuensi jika pembayaran terlambat.
Untuk itu, Anda perlu mengetahui apakah fasilitas kredit mulai menjebak kondisi keuangan atau tidak dengan mengenali tanda-tandanya berikut ini:
Sebelum menggunakan paylater atau kartu kredit, Anda perlu mempertimbangkan hal-hal sederhana, seperti:
Layak dijadikan acuan, Buku Saku Cerdas Mengelola Keuangan dari OJK menggunakan batas maksimal 30% dari penghasilan sebagai salah satu indikator untuk mengecek cicilan utang. Namun, angka ini sebaiknya dipahami sebagai alat ukur awal, bukan batas yang harus dihabiskan. Rumah tangga dengan pendapatan tidak tetap atau tanggungan besar bisa saja membutuhkan ruang keuangan yang lebih longgar.
Paylater dan kartu kredit memang dapat membantu mengatur waktu pembayaran, tetapi keduanya tetap merupakan utang. Fasilitas ini akan lebih sehat jika digunakan untuk transaksi yang sudah direncanakan, total biayanya dipahami sejak awal, dan pelunasannya tidak mengganggu kebutuhan utama.
Masalah mulai muncul ketika limit dianggap sebagai tambahan pendapatan atau cicilan baru digunakan untuk menutup cicilan lama. Pada tahap ini, prioritasnya bukan lagi memilih alat pembayaran, melainkan menghentikan penambahan utang, memetakan seluruh kewajiban, dan memulihkan arus kas.
Setelah kondisi lebih terkendali, ruang keuangan yang kembali tersedia sebaiknya tidak langsung habis untuk konsumsi baru. Sebagian dapat mulai diarahkan ke tujuan yang lebih panjang, seperti pendidikan, perlindungan keluarga, atau kebutuhan masa depan.
Di sinilah perlindungan keuangan menjadi relevan. Asuransi dapat membantu menjaga rencana finansial agar tidak mudah terganggu ketika terjadi risiko tertentu, sehingga tabungan dan aset yang sudah dibangun tidak harus langsung digunakan untuk menutup kebutuhan tak terduga.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah Manulife Dynamic Wealth Assurance, produk asuransi jiwa dwiguna dengan tiga pilihan plan, masa pembayaran premi mulai dari satu tahun, dan masa pertanggungan hingga 30 tahun. Proteksi yang dimiliki bisa melengkapi perencanaan perlindungan dan tujuan finansial Anda dalam mewujudkan kesejahteraan yang lebih dinamis.
Kami akan segera merespon pesan Bapak/Ibu pada jam operasional kami.
Error:
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Kunjungi laman menarik lainnya:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia