Setiap Agustus, kata “merdeka” kembali terasa dekat. Dalam kehidupan finansial, maknanya bukan sekadar memiliki banyak uang atau berhenti bekerja lebih cepat, melainkan mempunyai ruang untuk menentukan pilihan tanpa terus-menerus dibayangi tagihan dan kekhawatiran soal masa depan.
Masalahnya, kebutuhan finansial tidak berhenti ketika masa produktif berakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Umur Harapan Hidup saat lahir di Indonesia pada 2025 mencapai 74,47 tahun, naik 0,32 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, perencanaan keuangan perlu melihat horizon yang cukup panjang, termasuk tahun-tahun setelah memasuki usia pensiun.
Di sisi lain, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46%, sementara indeks inklusinya mencapai 80,51%. Akses terhadap layanan keuangan sudah semakin luas, tetapi kemampuan memahami dan mengelolanya belum selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.
Karena itu, kemerdekaan finansial sebaiknya tidak diperlakukan sebagai satu angka yang berlaku untuk semua orang. Prioritas pada usia 40 tentu berbeda dengan usia 50 atau 60 tahun.
Memasuki usia 40-an, kehidupan finansial biasanya berada pada fase yang cukup padat. Cicilan rumah mungkin masih berjalan, biaya pendidikan anak meningkat, kebutuhan orang tua mulai bertambah, sementara persiapan masa pensiun juga tidak bisa terus ditunda.
Pada fase ini, langkah pertama adalah melihat arus kas secara utuh. Periksa berapa bagian pendapatan yang habis untuk kebutuhan rutin dan cicilan, berapa yang dapat disimpan, serta apakah dana darurat sudah cukup untuk menghadapi situasi tidak terduga.
Utang konsumtif juga mulai perlu dikurangi. Kenaikan pendapatan sebaiknya tidak seluruhnya berubah menjadi kenaikan gaya hidup karena usia 40-an masih memberi waktu untuk memperkuat aset sebelum memasuki masa pensiun.
Jika targetnya memiliki kondisi keuangan yang lebih mandiri pada usia 60, masih tersedia sekitar 20 tahun untuk membangun aset secara bertahap. Waktu yang panjang tersebut bisa menjadi keuntungan jika dimanfaatkan secara konsisten.
Memasuki usia 50-an, pendekatannya mulai berubah. Fokus tidak lagi hanya pada mengumpulkan aset sebanyak mungkin, tetapi juga memastikan aset yang sudah dibangun benar-benar mendukung kebutuhan di masa depan.
Mulailah menghitung kembali cicilan yang masih tersisa. Idealnya, semakin dekat dengan masa pensiun, ketergantungan terhadap utang semakin kecil sehingga penghasilan setelah pensiun tidak banyak terserap untuk kewajiban lama.
Likuiditas juga perlu diperhatikan. Tidak semua kekayaan harus tersimpan dalam aset yang sulit dicairkan, terutama karena kebutuhan kesehatan dan pengeluaran tidak terduga dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Jika berencana pensiun pada usia 60, seseorang yang berusia 50 tahun hanya memiliki sekitar satu dekade untuk menutup kekurangan pada rencana keuangannya. Karena waktunya lebih pendek, ruang untuk memperbaiki keputusan yang keliru juga semakin terbatas.
Pada usia 60, ukuran kemerdekaan finansial mulai terasa lebih konkret. Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak aset yang dimiliki, tetapi apakah aset tersebut dapat menghasilkan atau menyediakan arus kas yang cukup untuk membiayai kehidupan.
Cek kembali kebutuhan bulanan, sumber pendapatan setelah pensiun, cicilan yang masih berjalan, biaya kesehatan, serta aset yang mudah dicairkan. Perencanaan juga perlu mempertimbangkan pasangan atau anggota keluarga yang masih bergantung secara finansial.
Merdeka finansial di usia ini tidak selalu berarti berhenti bekerja. Seseorang bisa saja tetap aktif berkarya, menjalankan usaha, atau bekerja karena menikmati aktivitasnya. Bedanya, keputusan tersebut lahir dari pilihan, bukan karena seluruh biaya hidup bergantung pada gaji berikutnya.
Berapa pun usia Anda saat ini, ada beberapa hal sederhana yang dapat digunakan untuk mengecek kesiapan finansial:
1. Periksa Arus Kas
Apakah penghasilan masih selalu habis setiap bulan, atau sudah tersedia ruang untuk menabung dan membangun aset?
2. Lihat Posisi Utang
Hitung kapan cicilan akan selesai dan apakah kewajiban tersebut masih akan terbawa hingga memasuki usia pensiun.
3. Cek Dana Cadangan
Kebutuhan tak terduga seharusnya tidak selalu berakhir dengan utang baru atau pencairan aset yang sebenarnya disiapkan untuk tujuan lain.
4. Evaluasi Aset Jangka Panjang
Pastikan sebagian aset memang dibangun untuk mendukung kehidupan setelah penghasilan aktif berkurang.
5. Periksa Perlindungan Keluarga
Jika pencari nafkah mengalami risiko, apakah pasangan dan keluarga masih mempunyai dukungan finansial untuk melanjutkan rencana yang sudah dibangun?
Kemerdekaan finansial bukan hanya soal mengumpulkan aset. Sama pentingnya adalah menjaga agar rencana yang dibangun selama bertahun-tahun tidak mudah berubah ketika terjadi risiko yang tidak direncanakan.
Pada tahap inilah asuransi jiwa dapat menjadi salah satu bagian dari perencanaan. Tujuannya bukan menggantikan tabungan atau investasi, tetapi memberikan lapisan perlindungan terhadap risiko yang dapat memengaruhi kondisi finansial keluarga.
Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah Manulife Dynamic Life Assurance (MyLife), produk asuransi dwiguna yang menawarkan fleksibilitas dalam menentukan masa pembayaran premi dan masa pertanggungan sesuai pilihan yang tersedia.
MyLife menyediakan pilihan masa pembayaran premi 5, 10, 15, atau 20 tahun serta pilihan masa pertanggungan mulai 20 hingga 90 tahun. Anda juga dapat memilih Manfaat Akhir Masa Pertanggungan berupa tanpa manfaat akhir, 100% Premi Kembali, atau 100% Uang Pertanggungan Dasar sesuai plan dan ketentuan produk.
Fleksibilitas tersebut dapat dipertimbangkan ketika menyusun perlindungan untuk horizon yang panjang. Namun, pilihan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan keluarga, kemampuan membayar premi, tujuan finansial, serta manfaat perlindungan lain yang sudah dimiliki.
Pada akhirnya, merdeka finansial bukan perlombaan untuk mencapai angka tertentu secepat mungkin. Usia 40, 50, dan 60 membawa prioritas berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama: kendalikan arus kas, kurangi ketergantungan pada utang, bangun aset secara konsisten, dan lindungi rencana dari risiko yang dapat mengubah arah keuangan.
Sebab, kemerdekaan finansial yang sesungguhnya bukan hanya soal memiliki cukup uang untuk hari ini. Lebih dari itu, Anda memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani pada tahun-tahun berikutnya.
Sumber:
1. BPS – Indeks Pembangunan Manusia 2025
2. OJK dan BPS – SNLIK 2025
3. OJK - Buku Pedoman Literasi Keuangan, Dana Darurat
Kami akan segera merespon pesan Bapak/Ibu pada jam operasional kami.
Error:
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Kunjungi laman menarik lainnya:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia