Bayangkan suatu pagi Anda sedang mengantar anak ke sekolah. Di perjalanan, tiba-tiba terlintas satu pertanyaan sederhana: nanti ketika ia masuk SMP, SMA, atau kuliah, apakah dananya sudah siap?
Pertanyaan itu mungkin terasa masih jauh jika anak baru berusia dua atau tiga tahun, tapi. Namun, justru di situlah tantangannya. Pendidikan datang bertahap, tetapi biayanya juga terus bertambah.
Mulai dari uang pangkal, SPP, seragam, buku, kegiatan sekolah, transportasi, hingga kebutuhan kuliah, semuanya perlu dipersiapkan. Jika tidak direncanakan sejak awal, biaya yang tadinya terasa kecil bisa berubah menjadi beban besar dalam waktu singkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Penunjang Pendidikan 2024 memberi gambaran nyata mengenai hal ini. Rata-rata total biaya pendidikan selama tahun ajaran 2023/2024 mencapai Rp4,56 juta untuk SD sederajat, Rp7,34 juta untuk SMP, Rp10,19 juta untuk SMA/SMK, dan Rp19,01 juta untuk pendidikanperguruan tinggi.
Angka itu tentu bukan patokan untuk semua keluarga. Biaya sekolah di setiap kota bisa berbeda, begitu juga antara sekolah negeri, swasta, dan perguruan tinggi. Namun, satu hal cukup jelas bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula dana yang perlu disiapkan.
Seorang anak berusia tiga tahun mungkin masih punya belasan tahun sebelum masuk kuliah. Bagi orang tua, jarak waktu itu sebenarnya adalah keuntungan.
Semakin panjang waktu yang tersedia, semakin kecil tekanan untuk mengumpulkan dana besar dalam waktu singkat. Sebaliknya, jika baru mulai ketika anak sudah mendekati SMA atau kuliah, jumlah yang harus disisihkan setiap bulan tentu jauh lebih berat.
Karena itu, perencanaan pendidikan tidak harus menunggu gaji naik atau kondisi finansial terasa sempurna. Memulai dari jumlah kecil tetapi konsisten sering kali lebih realistis.
Ketika penghasilan meningkat, setoran dana pendidikan bisa ikut dinaikkan. Dengan begitu, persiapan berjalan mengikuti kemampuan keluarga.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mengandalkan perkiraan. Orang tua merasa, “nanti juga bisa disiapkan”, tanpa tahu berapa sebenarnya biaya sekolah yang dituju.
Cara yang lebih baik adalah mulai mencari informasi sejak dini, dengan melakukan beberapa hal ini, seperti mengecek biaya masuk, SPP, biaya daftar ulang, biaya seragam, kegiatan ekstrakurikuler, transportasi dan kebutuhan lainnya: .
Lakukan hal yang sama untuk jenjang berikutnya. Tujuannya bukan mencari angka yang pasti, tetapi mendapatkan gambaran agar target dana pendidikan anak lebih realistis.
Kenaikan biaya juga perlu diperhitungkan. Data BPS menunjukkan inflasi kelompok pendidikan masih terjadi di sejumlah daerah pada 2026.
Di Kota Bogor, misalnya, kelompok pendidikan mengalami inflasi 2,28% secara tahunan pada Agustus 2026. Besarnya berbeda antarwilayah, sehingga angka inflasi sebaiknya digunakan sebagai gambaran umum, bukan patokan tunggal untuk menghitung biaya sekolah.
Karena itu, informasi langsung dari sekolah atau universitas yang dituju tetap menjadi acuan paling relevan. Apalagi kenaikan biaya institusi pendidikan tertentu bisa berbeda dari angka inflasi rata-rata.
Setelah target mulai terlihat, Anda perlu tahu ke mana uangnya harus ditempatkan. Untuk kebutuhan yang waktunya sudah dekat, instrumen yang relatif stabil dan mudah dicairkan biasanya lebih sesuai.
Sementara untuk tujuan yang masih jauh, investasi pendidikan anak dapat dipertimbangkan sesuai jangka waktu dan profil risiko. Yang Pperlu diingat bahwa , investasi bukan jalan pintas. Potensi imbal hasil selalu datang bersama risiko.
KarenaOleh karena itu, strategi juga perlu berubah seiring waktu. Semakin dekat dengan tahun penggunaan dana, semakin penting mengurangi ketergantungan pada instrumen yang nilainya bisa berfluktuasi tajam.
Dana pendidikan juga sebaiknya dipisahkan dari rekening harian. Jika dicampur, uang yang awalnya ditujukan untuk sekolah bisa lebih mudah terpakai untuk kebutuhan lain.
Ada satu skenario yang sering tidak ingin dipikirkan, tetapi tetap perlu dipersiapkan. Bagaimana jika orang tua yang menjadi pencari nafkah meninggal dunia atau mengalami penyakit serius sebelum dana pendidikan terkumpul?
Tabungan dan investasi memang membangun dana. Namun, keduanya belum tentu cukup jika risiko datang lebih cepat dari rencana.
Di sinilah perlindungan asuransi memiliki fungsi berbeda. Tujuannya bukan menggantikan tabungan atau investasi, tetapi membantu menjaga agar pendidikan anak tetap berjalan ketika kemampuan finansial keluarga terganggu.
Perencanaan pendidikan yang matang bukan hanya bertanya, “Bberapa yang harus dikumpulkan?” Ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: “Aapa yang terjadi jika saya tidak bisa lagi menyiapkan dana itu?”
Dalam hal ini, Manulife Perlindungan Pendidikan Syariah hadir sebagai solusi yang dirancang untuk membantu melindungi rencana pendidikan anak. Produk asuransi jiwa syariah ini memberikan perlindungan atas risiko meninggal dunia dan menyediakan pilihan perlindungan terhadap Penyakit Kritis Tahap Akhir sesuai dengan plan yang dipilih.
Jika risiko yang dipertanggungkan terjadi, manfaat dapat mencakup pengembalian kontribusi yang telah dibayarkan serta Manfaat Tahapan Terjadwal sesuai usia anak atau tahun polis dan ketentuan yang berlaku. Jika peserta tetap hidup hingga akhir masa asuransi dan polis tetap aktif, tersedia manfaat akhir masa asuransi berupa 100% dari total kontribusi yang telah dibayarkan sesuai ketentuan polis.
Intinya, jangan sampai terlambat! Mempersiapkan dana pendidikan anak bukan tentang mengetahui dengan tepat berapa biaya kuliah 15 tahun lagi. Yang lebih penting adalah mulai sekarangtentukan , punya target, dan terus menyesuaikannya.
Sebab ketika hari pertama sekolah akhirnya datang, yang dibutuhkan bukan lagi niat untuk mulai menabung, tetapi dana yang memang sudah siap. Selain itu, jangan lupa proteksinya.
Sumber:
Kami akan segera merespon pesan Bapak/Ibu pada jam operasional kami.
Error:
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Kunjungi laman menarik lainnya:
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia