Selama bertahun-tahun, Manulife Asia Care Survey (ACS) telah mengkaji kesehatan dan kesejahteraan finansial masyarakat di Asia, serta mengungkap bagaimana kebutuhan, nilai, dan aspirasi mereka terus berkembang.
Dalam edisi 2026, ACS melibatkan lebih dari 9.000 responden dewasa di sembilan negara di Asia, menunjukkan satu fakta umur panjang yang sering kali luput dari perhatian.
Seiring meningkatnya harapan hidup, semakin panjang pula periode seseorang membutuhkan bantuan atau dukungan di usia lanjut . Di Indonesia, lansia diperkirakan dapat memerlukan perawatan atau dukungan finansial selama 13–14 tahun. Realitas ini mendorong masyarakat untuk melihat masa depan dari perspektif yang berbeda.
Menurut Asia Care Survey 2026, banyak orang mulai bergeser dari pandangan tradisional tentang warisan dan lebih menginginkan “kebebasan tanpa menjadi beban” (burdenless freedom), yakni aspirasi untuk tetap mandiri di masa tua tanpa bergantung pada keluarga.
Temuan Utama Manulife Asia Care Survey 2026:
Lebih dari 80% orang dewasa di Asia kini lebih mengutamakan kemandirian fisik dan finansial dibandingkan meninggalkan harta benda bagi keluarga.
93% orang dewasa Indonesia memandang kemandirian dan kebebasan finansial sebagai warisan paling bermakna untuk keluarga. Tren tersebut jauh di atas rata-rata di kawasan Asia sebesar 82%.
"Di seluruh Asia, masyarakat mulai memandang warisan dengan cara yang berbeda," kata Steve Finch, CEO Manulife Asia. "Kini, kemandirian menjadi warisan yang paling berharga. Saat seseorang mampu menjaga kesehatan dan kondisi keuangannya sendiri, ia dapat hidup mandiri dan memberi keluarganya keleluasaan untuk menjalani hidup mereka masing-masing."
Di Indonesia, perencanaan pensiun secara tradisional sering kali dianggap sebagai satu momen perubahan: ketika masa bekerja berakhir dan masa pensiun dimulai. Namun kini, pensiun semakin dilihat sebagai perjalanan bertahap yang dipengaruhi oleh realitas finansial, tanggung jawab keluarga, dan keinginan untuk tetap mandiri lebih lama.
Bagi banyak orang, tetap bekerja di usia lanjut kini menjadi bagian dari rencana pensiun.
Sebanyak 77% responden ingin tetap bekerja dalam bentuk apapun setelah usia 65 tahun, dengan pekerjaan paruh waktu yang fleksibel sebagai pilihan utama. Hal ini dipandang sebagai cara untuk tetap mandiri sekaligus memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan.
Namun, fleksibilitas dalam menjalani masa pensiun sering kali tetap dipengaruhi oleh realitas finansial.
Saat ini, lebih dari dua pertiga orang dewasa di Indonesia atau 68% memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga.
Di antara mereka yang memberikan dukungan tersebut, hampir 38% dari pendapatan bulanan digunakan untuk memenuhi tanggung jawab keluarga. Angka ini relatif stabil juga untuk 37% kalangan generasi sandwich.
Kondisi ini turut memengaruhi keyakinan masyarakat dalam mencapai kemandirian jangka panjang. Hampir 69% responden menyatakan bahwa tanggung jawab keluarga membatasi kemampuan mereka untuk mencapai kemandirian, dan angka tersebut meningkat menjadi 74% di kalangan generasi sandwich.
Ketika sebagian pendapatan digunakan untuk mendukung kebutuhan orang lain, masyarakat Indonesia mungkin menghadapi tantangan lebih besar untuk tetap menabung, berinvestasi secara konsisten, dan menyiapkan dana cadangan untuk masa pensiun serta kebutuhan kesehatan. Tanpa perencanaan sejak dini, tanggung jawab untuk membantu keluarga hari ini dapat memengaruhi kemandirian finansial di kemudian hari.
Temuan ini juga menegaskan bahwa masa pensiun perlu direncanakan secara bertahap, bukan sebagai satu momen yang terjadi dalam satu malam.
Bekerja lebih lama dapat membantu menjaga kemandirian, tetapi hanya jika masyarakat siap menghadapi perubahan pendapatan, pengeluaran, dan kebutuhan perawatan dari waktu ke waktu. Mulai dari fase bekerja penuh waktu, memasuki pensiun bertahap, hingga kebutuhan perawatan di usia lanjut, setiap tahap membutuhkan perencanaan yang matang.
Tanpa perencanaan yang terstruktur dan strategi investasi yang sesuai, masyarakat berisiko harus bekerja lebih lama dari yang diinginkan atau mengambil keputusan finansial secara terburu-buru ketika kondisi berubah.
Kabar baiknya, ada langkah yang dapat mulai dilakukan, yaitu dengan membangun percakapan yang terbuka dan menyusun perencanaan yang lebih terstruktur.
Dari orang dewasa berusia di atas 54 tahun, 86% di antaranya yang telah berdiskusi dengan keluarga mengenai kebutuhan pensiun lebih cenderung melaporkan kualitas hidup yang lebih baik daripada 71% dari mereka yang belum berdiskusi. Sementara itu, 96% dari mereka yang telah berdiskusi dengan perencana keuangan menunjukkan keunggulan yang lebih besar ketimbang 83% lainnya yang tidak.
Ketika ekspektasi, peran, dan preferensi dalam keluarga tidak dibicarakan dengan jelas, rencana finansial sering kali disusun berdasarkan asumsi yang belum tentu berjalan sesuai harapan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko pengambilan keputusan yang terburu-buru, ekspektasi yang keliru, serta terganggunya strategi investasi, terutama saat kebutuhan kesehatan atau perawatan muncul.
Percakapan dan diskusi sejak dini, didampingi arahan profesional, dapat membantu keluarga mengubah ketidakpastian menjadi rencana yang jelas dan dapat dijalankan, sekaligus mengurangi tekanan finansial di masa depan.
1. Rencanakan pensiun secara bertahap, bukan dalam satu malam
2. Jika Anda termasuk generasi sandwich yang bertanggung jawab atas anak dan orang tua: Rencanakan kewajiban keluarga yang berkelanjutan sebagai bagian dari arus kas, bukan sekadar dari “sisa” pendapatan. Di saat yang sama, tetap lanjutkan investasi untuk tujuan jangka panjang dan siapkan dana darurat, agar Anda tidak perlu menjual investasi jangka panjang di saat yang kurang tepat
3. Jika Anda merencanakan masa depan sendiri: Seimbangkan antara pertumbuhan aset dan ketersediaan dana. Tetap investasikan aset untuk kebutuhan jangka panjang, namun pastikan Anda juga memiliki dana yang mudah diakses saat diperlukan tanpa mengganggu rencana keuangan utama.
4. Memulai percakapan penting: libatkan keluarga dan profesional keuangan
About Asia Care Survey 2026
Asia Care Survey 2026 dilakukan pada Februari hingga Maret 2026 dan menghimpun insight lebih dari 9.000 individu berusia 18 tahun ke atas, termasuk kelompok usia 60 tahun ke atas, di sembilan negara di Asia: Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Singapura, Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Untuk versi lengkap data Asia, silakan kunjungi https://www.manulife.com/ca/en/about-us/news/asia-care-survey-2026.
Disclaimer: Versi Bahasa Indonesia ini merupakan terjemahan dari versi asli berbahasa Inggris dan disediakan hanya untuk tujuan informasi. Jika terdapat perbedaan, ketidaksesuaian, atau ambiguitas antara versi Bahasa Indonesia dan versi Bahasa Inggris, maka versi Bahasa Inggris yang akan menjadi acuan utama.